Menjadi ibu rumah tangga kerap kali dipandang sebelah mata. Banyak yang mengira tugas domestik hanya soal memasak, membereskan rumah, dan mengurus anak. Tapi di balik itu semua, ada beban emosional, kebingungan identitas, bahkan rasa kehilangan makna hidup yang sering tak terdengar.
Itulah yang dialami Bu Lestari (47), seorang ibu dua anak dari Bandung, yang sempat merasa dirinya tidak lagi dihargai. “Saya merasa tidak berguna, tidak penting. Anak-anak sudah besar, suami sibuk kerja. Kadang saya sendiri bingung… siapa saya sebenarnya sekarang?” ungkapnya dengan nada lirih.
Titik Balik: Saat Ingin Berubah
Bu Lestari mengaku sempat menutup diri selama bertahun-tahun. Ia enggan curhat karena merasa tak akan dimengerti. Tapi suatu hari, melalui rekomendasi teman arisannya, ia mencoba mengikuti sesi konsultasi di Garuda Amerta Consulting—tanpa banyak harapan.
“Awalnya saya pikir ini cuma baca-baca kartu. Tapi ternyata, saya justru merasa untuk pertama kalinya… saya benar-benar didengarkan,” kenangnya.
Melalui pendekatan cartomancy, energi matrix, dan sesi reflektif bersama konsultan, perlahan Bu Lestari mulai melihat ulang dirinya. Bukan hanya sebagai “ibu” atau “istri”, tapi sebagai individu dengan nilai dan potensi yang tetap utuh.
Konsultasi yang Membuka Mata
Selama proses konsultasi, konsultan membantu Bu Lestari menyadari bahwa ia membawa luka batin dari masa muda yang belum selesai. Ia juga terlalu keras pada dirinya sendiri—merasa harus “sempurna” di mata keluarga, tanpa ruang untuk lelah atau jujur pada diri.
“Yang membuat saya tersentuh, bukan cuma kata-kata dari kartunya, tapi bagaimana konsultan itu menanggapi saya dengan empati. Nggak nge-judge, nggak menyalahkan,” ujarnya sambil tersenyum.
Perasaan dihargai kembali datang bukan karena dipuji, melainkan karena ia merasa eksistensinya “diakui”. “Saya sadar, ternyata selama ini saya sendiri yang tidak menghargai diri saya. Saya terlalu fokus ke orang lain, sampai lupa siapa saya.”
Kini, Bu Lestari mulai rutin mengikuti sesi setiap dua bulan. Ia juga mulai menulis jurnal harian, ikut kelas energi untuk pemula, dan perlahan kembali terlibat aktif dalam komunitas lokal.
“Dulu saya malu kalau ditanya, ‘kegiatan Ibu apa?’ Sekarang saya jawab: saya lagi belajar mengenal diri saya. Dan itu sangat membanggakan,” katanya mantap.
Ruang Aman untuk Semua Perempuan
Cerita Bu Lestari bukanlah satu-satunya. Di Garuda Amerta Consulting, lebih dari 80% klien adalah perempuan, dan sebagian besar adalah ibu rumah tangga atau perempuan usia 30 ke atas yang sedang mengalami fase transisi dalam hidupnya.
Tim konsultan di sana berkomitmen menciptakan ruang aman untuk mendengarkan, memahami, dan memulihkan. “Kami percaya bahwa setiap perempuan punya cahaya dalam dirinya. Kadang, mereka hanya butuh seseorang yang bantu menyalakan ulang,” ujar salah satu konsultan.
Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti kehilangan identitas. Justru, dari peran itulah banyak perempuan belajar ketangguhan sejati. Tapi setiap ibu juga berhak merasa dihargai, didengar, dan disembuhkan dari dalam.
Jika kamu—atau seseorang yang kamu kenal—sedang merasa kehilangan arah, mungkin ini saatnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh kembali.

