Setiap orang memiliki “titik buta” dalam hidupnya. Ia bukan kelemahan, melainkan area yang tidak kita sadari, tapi berdampak besar pada keputusan, kebiasaan, hingga relasi kita. Seperti kaca spion kendaraan, kita bisa mengendarai hidup dengan cukup baik, namun tetap ada area yang luput dari pandangan—dan bisa membahayakan bila dibiarkan.
Pertanyaannya: bagaimana cara mengenali titik buta ini? Dan bisakah seseorang membantu kita melihatnya dengan lebih jernih?
Apa Itu Titik Buta dalam Kehidupan?
Titik buta (blind spot) adalah bagian dari diri kita yang tak kita sadari—namun sering kali jelas terlihat oleh orang lain. Contohnya bisa berupa pola hubungan yang terus gagal, reaksi berlebihan saat dikritik, atau kecenderungan menunda keputusan penting.
Menurut praktisi di Garuda Amerta Consulting, titik buta bisa muncul karena pengalaman masa kecil, nilai-nilai yang ditanamkan secara tidak sadar, hingga trauma atau luka batin yang belum disadari. “Banyak orang berpikir masalah mereka hanya soal pekerjaan atau pasangan, padahal sumbernya sering kali jauh lebih dalam,” ujar salah satu konsultan.
Mengapa Sulit Disadari Sendiri?
Titik buta sulit dikenali karena pikiran kita cenderung ingin melindungi diri. Kita menolak menyentuh hal-hal yang tidak nyaman, bahkan secara tak sadar menyangkalnya. Itulah sebabnya refleksi mandiri terkadang tidak cukup. Kita butuh sudut pandang luar—yang objektif, netral, dan mampu melihat dari kacamata berbeda.
Konsultan bukan sekadar “pemberi saran”. Dalam konteks seperti di Garuda Amerta, konsultan lebih seperti pendamping yang membantu kamu melihat dengan cermin yang jujur. Dengan metode seperti cartomancy, matrix energy, hingga human design, konsultan membantumu mengenali pola yang selama ini kamu abaikan.
Contohnya, seseorang yang merasa terus-menerus “sial” dalam pekerjaan, bisa jadi menyimpan pola sabotase diri yang tak disadari. Dalam sesi, bisa saja muncul bahwa ada ketakutan akan sukses, atau perasaan tidak layak yang dipupuk sejak kecil. Proses konsultasi membantu membongkar “benang kusut” ini—bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk dipahami dan diurai.
Diah (43), seorang wiraswasta dan ibu dua anak, mengaku sempat mengalami krisis identitas. “Saya selalu menyalahkan pasangan, tim kerja, bahkan lingkungan. Tapi lewat konsultasi di Garuda Amerta, saya melihat sisi diri yang selama ini saya abaikan,” ujarnya.
Dalam satu sesi pembacaan kartu dan diskusi mendalam, Diah menyadari bahwa ia sering memproyeksikan rasa takutnya kepada orang lain. “Itu titik buta saya—dan saya butuh orang lain untuk menunjukkannya.”
Setiap sesi dimulai dengan mengenali konteks masalah. Konsultan kemudian menggunakan pendekatan intuitif dan analitis berdasarkan metode yang relevan. Tak jarang, klien diajak berdialog dengan kartu, energi, atau struktur kepribadian yang digambarkan oleh teknik seperti numerologi atau human design.
Sesi bisa dilakukan secara langsung maupun daring, dan bersifat privat. Konsultan di Garuda Amerta juga menjamin pendekatan yang tidak menghakimi, sehingga setiap klien merasa aman dan diterima.
Titik Buta Bukan Musuh, Tapi Peluang Untuk Tumbuh
Perlu ditegaskan, menemukan titik buta bukan berarti menggali luka tanpa arah. Justru, ini adalah langkah awal menuju versi diri yang lebih sadar, lebih utuh, dan lebih tenang. Dengan menyadari apa yang selama ini tersembunyi, kamu bisa mengambil kendali kembali atas hidupmu.
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengubah apa yang tidak kita kenali. Tapi begitu titik buta itu terlihat—langkah berikutnya akan terasa lebih ringan.


Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.